Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat dan Tradisi Unik Lebaran di Indonesia

 



"Kupat kecemplung santen menawi kulo lepat nyuwun pangapunten", Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1447 H, Minal Aidzin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin 🙏🙏🙏.

Perayaan Hari Raya Idhul Fitri belum sepenuhnya berakhir bagi sebagian masyarakat Indonesia. Beberapa hari setelahnya, masih ada tradisi bakda kupat atau kupatan atau Lebaran Ketupat yang identik dengan membuat hidangan ketupat dengan berbagai tradisi khas daerah, khususnya di Pulau Jawa.

Menurut sejarah, Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Raden Mas Syahid, Raden Said, atau dikenal juga sebagai Sunan Kalijaga. Ketika itu, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah "bakda" kepada masyarakat Jawa, yakni "Bakda Lebaran" dan "Bakda Kupat". 

ketupat berasal dari kata “kupat” dalam bahasa Jawa yang berarti “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) dan “laku papat” (empat tindakan). Adapun istilah laku papat tersebut mengartikannya sebagai lebaran, luberan, leburan dan laburan. Lebaran memiliki arti akhir dan usai, menandakan berakhirnya bulan Ramadhan dan menyongsong kemenangan. Saat hari perayaan lebaran ketupat, masyarakat umumnya membuat ketupat bersama masakan pendamping seperti opor, lalu diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada mereka yang lebih tua. 

Kini, tradisi lebaran ketupat telah berkembang dari masa ke masa. Awalnya, perayaan ini mungkin lebih sederhana, namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini semakin berkembang dan diperkaya dengan berbagai ritual dan kegiatan. Perkembangan ini menunjukkan adaptasi tradisi terhadap perubahan zaman, namun tetap mempertahankan nilai-nilai inti yang terkandung di dalamnya.

Selain tradisi membuat ketupat lebaran, masih ada berbagai acara tradisi lebaran yang digelar di berbagai daerah di Indonesia. Seperti Grebeg Syawal (Kota Solo) yang merupakan tradisi yang dilakukan pada bulan Syawal, Perang Topat atau “perang ketupat” (Lombok Nusa Tenggara Barat) yang melambangkan kerukunan antara umat Hindu dan Islam, Pawai Pengon (Jember) yaitu tradisi menghias gerobak dengan janur kuning yang kemudian ditarik oleh dua ekor sapi mengelilingi desa, Binarundak (Sulawesi Utara) yaitu masyarakat Motoboi Besar memasak nasi jaha secara bersama-sama selama tiga hari setelah Lebaran dan Ronjok Sayak (Bengkulu) tradisi membakar batok kelapa yang ditumpuk hingga setinggi satu meter. Tradisi ini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan diyakini sebagai cara untuk berkomunikasi dengan leluhur. Pelaksanaan tradisi ini dilakukan setelah salat Isya pada 1 Syawal.

Komentar